Rabu, 12 Januari 2011

Yang Kukira Cinta

Pagi akan menjelang dalam hitungan jam. Tubuhku letih, namun mataku belum mampu terpejam. Seperti yang sudah-sudah, wajahmu kembali hadir. Namamu kembali terngiang, sembari benakku melafal segala yang kuingat tentang kamu. Namun entah kenapa aku tak lagi terlalu merindukanmu.

Bagaimana bisa, aku pun tak paham. Baru beberapa malam lalu pedih datang menggigit. Namun kini ia menyublim, menguap. Patah hati seharusnya tak sesingkat itu.

Barangkali yang kusebut cinta cuma fatamorgana. Barangkali aku belum tenggelam dalam impian tentangmu. Barangkali otakku mengabadikanmu namun hatiku belum terlanjur menyimpanmu. Atau barangkali, semua cuma kabut yang mampir untuk berlalu.

Aku ingin memahami kita. Aku ingin memahami kamu. Bukan sekali dua aku berkhayal; seandainya kita mengawali semua dengan benar. Tetapi yang terjadi jauh dari benar. Kamu dan aku sama-sama tahu, kita memulai dengan salah. Dan barangkali ini yang menjadi upahku—aku tergelincir dan tak ada lenganmu di sana.

Kamu tidak pernah menjadi milikku. Tidak sesaat pun. Otakkulah yang merekam begitu banyak kenangan, merangkainya bersama ilusi dan menipuku. Namun hati selalu tahu. Hatiku tahu.

Sekejap, kusayang kamu lebih dari siapa pun. Tanpa sempat kucegah. Tanpa sempat kukekang. Bukan bibirmu. Bukan lidahmu. Bukan lenganmu. Bukan jemarimu. Aku menyayangimu tanpa tahu kenapa. Mungkin inilah yang mereka bilang karma. Barangkali. Aku tak paham.

Tak pernah kusayangi orang tanpa apa dan mengapa. Kamu yang pertama, namun mudah-mudahan bukan yang terakhir. Karena hatiku perlu terus mengalir. Ia perlu terus hidup.

Malam ini kulepas kamu dengan sebuah doa. Kiranya cinta mengisi hari-harimu dengan senyum dan tawa. Kiranya hatimu senantiasa hidup dan bersinar. Kiranya jiwamu menemukan damai yang kau cari. Kiranya bahagia selalu ada untukmu.

Kiranya kita bahagia. Dengan jalan yang kita tempuh sendiri-sendiri.


Pedih ini perlahan memudar, menguap. Namun aku akan selalu ingat, ia pernah ada.

Diunduh dari blog yang saya suka, dgn mengubah sedikit kalimat tanpa mengurangi makna (karena tanggal lahirnya tidak beda 1 hari dgn tanggal lahir saya :) )..http://jennyjusuf.blogspot.com/

Selasa, 30 November 2010

Sang Air (sepenggal bermakna)

“Hidup ini cair,” ujar sahabatku yang jenius,
menyembunyikan ke-Ilahi-annya di balik
wadah air yang telah dipilihnya sendiri,
seolah-olah membuka rahasia pada dunia
tentang dirinya yang sejati.

Hatiku menunduk penuh haru,
karena memang air tidak berbentuk, sama seperti hidup ini,
Senantiasa mengalir, dan berubah.
Kalaupun seandainya hidup ini kelihatannya berbentuk dan pasti,
hanya karena pikiran kita menciptakan wadah bagi Sang Air.

Ketika Sang Air terjebak dalam wadah,
dia pun terenggut dari satu-satunya kekuatan alami yang dimiliki.
Kekuatan untuk bebas dan mengalir.

Tanpa batasan, tanpa wadah.
Hanya ketulusan apa adanya setiap momen...
Larut dalam cinta.

Bebas dan mengalir.


 http://rezagunawan.blogspot.com/2006/07/sang-air-dalam-ilmu-penyembuhan-timur.html

Selasa, 23 November 2010

.jeruji juragan.

maka di sinilah aku berada..
di antara tumpukan jeruji yang harus diasah..
diperuncing kata juragan,,

duh lamanya kau runcingkan jeruji itu??
juragan mulai marah..

ampun juragan,,tidak kah juragan lihat jeruji ini sudah runcing
bahkan sanggup berubah seperti sembilu..

tahu kah kau budak,,untuk apa jeruji ini untuk apa??
jeruji ini akan menembus raga setiap manusia yang halangi jalanku menuju esa..

ckckckcc,,juragan ampun terlalu egois..
ini hanya saya si budak pengasah jeruji tanpa bayaran..

kamuu..

tadi malam kau mampir lagi dalam mimpiku..
kau tahu???

aku sedih,,berharap kau nyata..

,,dan ketika ku terbangun hanya sinaran lentera kecil temani tidurku,,
tak ada kamu...

aku sedih,,berharap kau nyata..